Selasa, 17 Agustus 2010

Listrik Adalah Mimpi


65 Tahun Merdeka Ratusan warga Belum Merasakan Listrik

Oleh: Muji Barnugroho

Peringatan kemerdekan RI ke-65 mungkin tidak begitu terasa bagi puluhan kepala keluarga di Dusun Suruh, Hargomulyo, Gedangsari Gunungkidul. Tinggal di daerah pegunungan membuat kebutuhan listrik asing bagi mereka. Kondisi ini sangat ironi dengan gembar-gembor pemerataan pembangunan oleh pemerintah.

Ratusan warga yang berada di daerah perbukitan utara ini, puluhan tahun sejak proklamasi kemerdekaan belum pernah merasakan listrik. Kondisi ini berdampak pada daerah mereka yang semakin terpencil dan tertinggal dari proses perkembangan zaman. Apakah karena letak mereka yang berada di wilayah perbukitan menjadi tersingkir dan sering terabaikan dari proses pembangunan?

Dilihat dari kondisi ekonomi masyarakatnya, warga di perbukitan ini memang masih tergolong miskin. Rumah penduduk banyak yang terbuat dari bambu dengan lantai tanah. Untuk kebutuhan makan sehari-harinya warga yang tinggal di daerah ini masih mengkonsumsi nasi thiwul yang berbahan baku singkong yang ditanam tanah tandus pegunungan di sekitar tempat tinggal mereka dengan mengantungkan pengairan dari air hujan.

Salah seorang warga, Karyo Suminto (87) mengaku sejak dirinya lahir belum pernah merasakan nikmatnya kemerdekaan, untuk penerangan rumahnya setiap harinya keluarganya beserta warga lain masih menggunakan lampu sentir (minyak:red). Bahkan untuk mendapatkan minyak tanah dirinya harus merogoh kocek Sembilan bahkan sepuluh ribu untuk mendapatkan 1 liter minyak tanah. Kondisi ini semakin diperparah dengan sulitnya mendapatkan minyak tanah akhir-akhir ini.

“Setiap malam kami mengunakan penerangan dari lampu senthir atau teplok.” Ujar Suminto.

Hal senada dirasakan Sumarno (60) warga lainnya. Dirinya merasakan pembangunan belum berpihak bagi masyarakat kampungnya. Listrik yang menjadi kebutuhan dasar belum menyentuh kampungnya.

“saya Cuma bisa berharap di hari kemerdekaan ini pemerintah membangun jaringan listrik di kampung kami.” katanya berharap.

Kondisi semacam ini juga dirasakan ratusan warga di daerah Gunungkidul bagian selatan. Ratusan warga yang berada di daerah sekitar pantai selatan hingga saat ini masih belum bisa merasakan nikmatnya mendapatkan jaringan listrik di kampung mereka. Anak-anak sekolah harus belajar menggunakan lampu minyak, yang selalu dekat dengan angus di wajah mereka. Harapan menikmati listrik bagi ratusan warga ini hanyalah sekedar mimpi yang masih jauh dari kenyataan.

Jumat, 16 Juli 2010

Menggantungkan Hidup Dari Memulung


Sampah bagi sebagian besar masyarakat di perkotaan mungkin menjadi masalah yang sering dianggap menimbulkan malapetaka. Namun, bagi para pemulung sampah adalah nafas bagi kehidupan mereka. Pasalnya, sampah yang identik dengan tempat-tempat kotor ini merupakan mata pencarian bagi orang yang berprofesi memulung.

Tanpa disadari pemulung adalah penyelamat bagi lingkungan. Mungkin banyak orang mengira masalah sampah akan selesai setelah setiap harinya diambil para pekerja dari DPU (Dinas Pekerjaan Umum) dan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Namun, jika tidak ada pemulung, sampah yang terkumpul akan terus menggunung, karena sampah tersebut khususnya yang berbahan dari plastik baru dapat terurai sekitar 300 tahun. Jika dibayangkan, bagaimana kondisi yang terjadi selama 300 tahun jika sampah terus bertambah.

Supiyem (65) warga Wukirsari Baleharjo merupakan satu dari puluhan pemulung yang setiap harinya memunguti plastik, kertas bekas dan beling (pecahan gelas) di TPA Wukirsari Baleharjo. Meski untuk mendapatkan jenis sampah yang dicari harus memilih-milih dari gundukan sampah yang menggunung dan banyak dikerumuni lalat sementara hasil yang di dapatkan dari memulung berkisar Rp 50 ribu tiap minggunya, Supiyem tetap merasa bersyukur, karena pekerjaan inilah yang dapat ia kerjaan.

“Mau kerja apa lagi, sawah saya juga tidak punya.” Ujar Supiyem.

Plastik dan kertas yang sudah terkumpul dimasukkan dalam karung dan dijual kepada pengepul untuk dijual kembali ke daerah Jogja dan Solo. Menurut Supiyem setiap Kg-nya plastik dihargai Rp 400 rupiah, Rp 200 rupiah untuk kertas dan Rp 200 untuk beling.

Pekerjaan yang digeluti Supiyem juga diikuti Sulastri (40) anak perempuan satu-satunya. Sejak ditinggal cerai suaminya 8 tahun silam, Sulastri memilih balik ke kampung dan mengikuti jejak ibunya, memulung sampah. (gng)


Tarian Janggrung


Tarian Janggrung di daerah Kecamatan Semanu Gunungkidul merupakan jenis kesenian yang disakralkan. Dalam setiap pelaksanaan acara bersih desa, setiap tahunnya kesenian ini selalu dipentaskan di tempat yang dikeramatkan, yakni di bawah pohon asem dan Kepoh yang berada di Dusun Munggi Desa Munggi Kecamatan Semanu. Konon, tempat tersebut dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya daerah setempat.

Oleh masyarakat setempat kedua pohon besar tersebut diselimuti dengna bentangan kain kafan panjang. Menurut juru kunci, Atmo Suwito (75) dulunya ditempat itu tumbuh pohon munggi besar yang kemudian desa tersebut dikenal dengan sebutan desa Munggi.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Tarian Janggrung dipercaya dapat digunakan sebagai perantaraan penyembuhan berbagai macam penyakit. Oleh seorang penari orang yang terserang penyakit dimintakan kepada yang mbau rekso (penguasa gaib) yang punya tempat untuk diberikan kesembuhan. Oleh seorang penari orang yang sakit diajak menari dengan diiringi musik gamelan dan selanjutnya dicium dan diusap mukanya dengan mengguknakan selendang sang penari.

Sepintas diamati tidak sedikit pengunjung yang datang untuk berobat. Dengan kepercayaan yang diyakini dan nilai spiritualitas yang tinggi tak sedikit pengunjung yang rela datang dari luar kota. Percaya tidak percaya kesembuhan yang diharapkan pun muncul. Entah dari mana sumbernya namun yang jelas jika seseorang mempunyai keinginan untuk sembuh dan telah berikhtiar Tuhan akan memberikan kesembuhan dengan beribu jalan.

Selain tarian janggrung, ditempat yang dikeramatkan tersebut seorang Juru kunci membacakan mantra-mantra sambil membakar kemenyan. Selain meminta penyembuhan, terlihat banyak pengunjung yang masih mempercayai jika tempat keramat tersebut dapat mendatangkan berkah. Atmo Suwito menjelaskan tak sedikit warga sekitar maupun dari daerah lain yang datang untuk didoakan agar mendapatkan berkah,kemurahan rejeki maupun jodoh.

“Cukup membawa kemenyan sama kembang (bunga).” Ujar Atmo Suwito.

Asap kemenyan yang mengepul ditambah alunan musik janggrung dengan lenggak-lenggok sang penari seakan membawa para penonton hanyut dalam nuansa mistik yang sangat kental. Meski dalam perkembangannya kesenian ini hampir punah. Namun, bagi masyarakat yang mempercayainya kesenian ini masib tetap dilestarikan. Selain nilai ritual yang tinggi kesenian janggrung juga merupakan kekayaan budaya masyarakat di Gunungkidul. (gng)

Selasa, 20 April 2010

Upacara Tradisi Bersih Kali

GUNUNGKIDUL – Upacara bersih kali bagi masyarakat dusun Gunungbang Bejiharjo Karangmojo merupakan upacara tradisi yang digelar pada setiap tahunnya pasca panen. Tujuan pelaksanaan upacara tradisi bersih kali ini yakni sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan yang maha kuasa berupa hasil pangan yang melimpah dan juga kesehatan. Selain itu upacara tradisi ini bertujuan sebagai sarana untuk mewujudkan nadzar (janji:red) warga yang telah dikabulkan permintaannya.

Upacara tradisi bersih kali ini digelar di daerah sekitar belik (sumber mata air:red) daerah Gunungbang Bejiharjo Karangmojo yang diyakini dulu tempat Sunan Kalijogo pernah singgah dan menancapkan tongkatnya sehingga memunculkan sumber mata air yang tak pernah berhenti mengalir meski di musim kemarau. Di dalam belik terdapat batu yang diyakini merupakan penyumbat mata air yang konon tidak boleh dipindah karena jika dipindah akan menimbulkan bencana. Oleh sebagian besar masyarakatnya daerah sekitar belik dipercaya disinggahi Kyai Mbah Sejati, Kyai Onggowoso, Kyai Gading mlati, Kyai Janur Windo, Kyai Sabuk Alu dan Kyai Jalu Wesi.

Bagi sebagian warga yang mempercayainya, air yang bersumber dari belik diyakini mendatangkan berkah, selain untuk penyembuhan air belik juga dipercaya membuat orang awet muda jika digunakan untuk membasuh muka. Puji (30) warga sekitar salah seorang yang mengambil air belik mengaku mengambil air belik untuk dipergunakan sebagai sarana pengobatan orang sakit.

“Saya mengambil air untuk sanana penyembuhan.” Katanya.

Upacara tradisi bersih kali ini dihadiri banyak warga, baik itu warga dari daerah setempat maupun warga dari daerah lain. Ada pantangan-pantangan yang harus ditaati bagi setiap pengunjung upacara tradisi bersih kali. Menurut YS. Sandiyo selaku pemangku adat, pengunjung yang datang dilarang menggunakan sabuk berwarna hijau, iket bangun tolak, dilarang membawa tunggangan jaran pancal panggung.

Dalam pelaksanaannya upacara tradisi Bersih kali, setiap kepala keluarga membuat encek (tumpeng:red) yang berisi Krowotan (kimpul, gembili, singkong yang direbus:red), Jadah, Cengkaruk, Pulo, Kupat, lepet dan nasi ingkung. Dengan diiringi kesenian jatilan encek dari warga dibawa ke daerah belik lalu diserahkan kepada pemangku adat. Dipimpin kaum adat, Suryodiyanto (55) encek dari warga dikendurikan. Selesai dikendurikan encek dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Upacara bersih kali diakhiri dengan pegelaran kesenian tayup.

“Kesenian tayup ini harus diadakan karena meripakan hiburan yang disukai yang mbau rekso (penguasa:red) wilayah sini.” Ujar YS Sandiyo.

Menurut YS Sandiyo, konon pada tahun 1948 saat melaksanakan upacara tradisi bersih kali tidak warga tidak menggelar kesenian tayup. Saat itu juga banyak warga yang sakit dan turun hujan deras disertai angin kencang. Semenjak itu saat diadakan upacara tradisi bersih kali selalu diadakan kesenian tayup.

Bagi sebagian masyarakat yang mempercayai, sebelum menonton kesenian tayup, pengunjung yang membawa anak kecil langsung meminta seorang ledek (penari tayup:red) untuk mencium anaknya atau mengusapkan selendang ke wajah si anak agar tidak terkena sawan.